Search blog.co.uk

  • loko Tour jember

    Loko Tour

    Semboro Sugar Factory, 35 km west of Jember, was built in Colonial Dutch period by Handles Vereniging Amsterdam (a Dutch private company) in 1921 with 2103 hectares of sugar cane field which spreads out in the western and the northern part of Jember. In colonial Japanese period, the producing sugar activities stopped and at the same time it was changed as soda factory to fulfill the needs of Japanese Government. Few years after Indonesian Independence Day, precisely in 1949, it was made as an ammunition factory to provide supplies for the Indonesian freedom fighters against the colonial to reoccupy Indonesian country. From 1950 to 1957 the milling activities began producing sugar which was already taken over by Indonesian government. Due to its demands since 1978, Semboro sugar factory has tried to increase its production from 24.000 kw to 54.000 kw per day by processing carbonization into sulfitation with the area of more or less 10.500 hectares. The foreign visitors can make nostalgic tour by steam loco for 2 hours as well as they can see the beautiful view along the trip. To get there, the visitors can take rental car and transportation in 120 minutes from central town.

  • Wisata Banyuwangi

    Terhampar di wilayah seluas 5.800 km persegi, Banyuwangi memiliki topografi yang lumayan komplit -mulai dari dataran rendah hingga pegunungan- untuk ditanami berbagai tanaman industri. Tidak hanya tanahnya yang subur, Kabupaten Banyuwangi juga memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor pariwisata. Selain "segi tiga berlian" Kawah Ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade, di Banyuwangi terhampar banyak lokasi wisata yang sanggup menjadi “magnet” para pelancong.

    Buku "Informasi Pariwisata Nusantara" terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2005 menyebutkan di Kota Banyuwangi sendiri terdapat Museum Blambangan, tepat di depan alun-alun di Jalan Sritanjung, yang memamerkan koleksi barang-barang perkakas berusia ratusan tahun yang terbuat dari gerabah atau perunggu serta bermacam kitab kuno.

    Bagi wisatawan yang berminat menikmati suasana perkebunan, alternatif pilihan demikian beragam di Banyuwangi. Ada Kebun Kandeng Lembu di Kalibaru, perkebunan di Kecamatan Glenmore, Kaliklatak di lereng Gunung Merapi, Kalibendo dan objek agrowisata di Kaliselogiri.

    Perkebunan di Kaliklatak adalah perintis wisata agro di Tanah Air. Terletak di lereng Gunung Merapi, atau 15 km barat kota Banyuwangi, objek wisata perkebunan ini memiliki luas sekitar 100 ha dan dikelola oleh perusahaan swasta. Komoditas utama dari kawasan Kaliklatak antara lain berupa kopi, coklat, karet, cengkeh, dan rempah-rempah.

    Hal yang unik dari Banyuwangi adalah terdapatnya tiga taman nasional yang berfungsi aktif sebagai wahana konservasi flora dan fauna, yakni Taman Nasional Alas Purwo(TNAP), Taman Nasional Meru Betiri(TNMB) dan Taman Nasional Baluran.

    Taman Nasional Baluran letaknya sangat strategis, berada di tepi jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Mudah dijangkau, baik dari Pulau Bali maupun Surabaya. Ketika menginjakkan kaki di Taman Nasional Baluran, sambutan pertama yang akan menyapa para pengunjung adalah sekawanan monyet berekor panjang yang menghuni kawasan seluas 25 ribu ha itu.

    Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40% tipe vegetasi savana mendominasi kawasan taman nasional ini.

    Di Padang Rumput Bekol, pengunjung dapat menikmati pemandangan sekelompok banteng dan rusa dengan latar belakang Gunung Baluran (1.247m). Sebagian orang bahkan menyebut Padang Rumput Bekol sebagai miniatur padang rumput Afrika yang sangat terkenal itu.

    Objek wisata air mancur juga ada di Banyuwangi. Air mancur alami yang mengucur di dekat pantai terletak di kawasan Pancur yang masih berada di Taman Nasional Alas Purwo sangat tepat untuk berteduh dan bersantai sembari menikmati suara deburan ombak serta melihat binatang liar dari hutan.

    Pada Taman Nasional Alas Purwo terdapat beberapa gua yang digunakan sebagai tempat untuk bermeditasi oleh kalangan supranatural. Gua sakral seperti Gua Istana dan Sendang Srengenge berada sekitar 2 km saja dari Pancur. Sementara tak jauh dari Pancur, terdapat karang hitam (karang mati) yang lebih dikenal dengan sebutan Karang Ireng, lengkap dengan pantai berpasir gotrinya.

    Gua-gua lain yang kerap dijadikan tempat bersemedi para lelono, sebutan bagi orang yang bermeditasi di sana, adalah Gua Padepokan dan Gua Putri.

    Perjalanan menuju gua-gua itu sangat mengesankan karena wisatawan berjalan di bawah rimbunnya Hutan Alas Purwo, bahkan tak jarang mereka juga terpaksa melintasi sungai kecil serta merangkak di bawah rumpun bambu yang tumbang.

    Di Taman Nasional Alas Purwo juga ada sebuah pura peninggalan sejarah, yang hingga kini masih dipakai oleh umat Hindu di Banyuwangi untuk upacara keagamaan Pagerwesi setiap 210 hari sekali.

    Memandangi tingkah polah satwa-satwa yang sedang merumput juga bisa dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo. Tepatnya di pos Sadengan, padang penggembalaan seluas 80 ha siap menjadi lokasi banteng, kijang, rusa, babi hutan, dan berbagai jenis burung bersantap pada pagi dan sore hari.

    Berjarak 20 km dari Kota Banyuwangi, ada Pulau Tabuhan yang luasnya 5 ha dan memiliki pemandangan taman laut yang indah dengan batu karang yang menjadi rumah bagi ribuan ikan karang, udang, dan tumbuhan laut lainnya.

    Di dekat Desa Ketapang, Kecamatan Giri, hamparan pasir putih Pantai Watu Dodol begitu indahnya bahkan pengunjung bisa melihat Pulau Bali yang hanya dipisahkan oleh Selat Bali dari Banyuwangi.

  • Belajar dari Kehidupan

    Inilah sebuah petualangan hidup yang tidak bisa dihindari oleh manusia, aku sendiripun demikian, seolah hidup ini adalah pencarian sebuah jati diri yang sesungguhnya.

    Berbagai masalah silih berganti mendewasakan kita. Orang yang lemah dan tak mampu bertahan akan kalah dan menyerah dalam hidup. Akhirnya memilih kematian sebagai akhir dari segalanya. Tapi yang sanggup bertahan akan terus hidup tuk menggapai cita-cita yang diinginkannya.

    Hidup itu memang singkat apabila kita dalam ketenangan dan kebahagiaan namun akan merasa lama jika kita merasakan penderitaan.

    Hakikat hidup itu sendiri seolah ditafsirkan berbeda oleh tiap-tiap orang dari pengalaman yang mereka dapatkan selama hidup. Padahal kita tahu bahwa hidup itu untuk mati. Namun kita tidak boleh meminta mati atau membuat kita mati.

    Yang pasti siapkan bekal dikemudian hari, ingat akan kuasa Illahi. Dan bersyukurlah kita masih diberi kehidupan...

    Karena Allah menyukai orang-orang yang bersyukur.

  • Belajar dari Kehidupan

    Inilah sebuah petualangan hidup yang tidak bisa dihindari oleh manusia, aku sendiripun demikian, seolah hidup ini adalah pencarian sebuah jati diri yang sesungguhnya.

    Berbagai masalah silih berganti mendewasakan kita. Orang yang lemah dan tak mampu bertahan akan kalah dan menyerah dalam hidup. Akhirnya memilih kematian sebagai akhir dari segalanya. Tapi yang sanggup bertahan akan terus hidup tuk menggapai cita-cita yang diinginkannya.

    Hidup itu memang singkat apabila kita dalam ketenangan dan kebahagiaan namun akan merasa lama jika kita merasakan penderitaan.

    Hakikat hidup itu sendiri seolah ditafsirkan berbeda oleh tiap-tiap orang dari pengalaman yang mereka dapatkan selama hidup. Padahal kita tahu bahwa hidup itu untuk mati. Namun kita tidak boleh meminta mati atau membuat kita mati.

    Yang pasti siapkan bekal dikemudian hari, ingat akan kuasa Illahi. Dan bersyukurlah kita masih diberi kehidupan...

    Karena Allah menyukai orang-orang yang bersyukur.

  • danau Toba sumatera

    Di Balik Keelokan Danau Toba

    SETELAH melewati sebuah bukit, dari balik-balik rerimbunan pohon dan batang-batang pinus yang banyak tumbuh di pinggir jalan tampak hamparan air yang membiru. Hawa sejuk dan bau air yang segar mulai memenuhi dada dan menyebar kesejukan dan rasa lega. Perlahan-lahan, rasa penat setelah menempuh empat jam perjalanan dari Medan sirna.

    Tentu sebuah pengalaman eksotis yang tak terungkapkan ketika dapat menyaksikan sinar Matahari pagi jatuh di permukaan danau yang tenang itu, atau menikmati keheningan sore hari saat Mentari mulai menyusup di balik cakrawala. Tak salah jika kesemarakan Danau Toba tersiar hingga ke berbagi penjuru dunia dan pelosok negeri.

    Saat memasuki Parapat, sebuah kota di tepi Danau Toba, orang akan terkagum-kagum dengan cantiknya alam Toba. Selain itu, keletihan segera sirna ketika orang sejenak menikmati hangatnya kopi sambil mereguk keindahan Danau Toba. Kelelahan akan berangsur lenyap tatkala hidangan khas Sumatera Utara, Minang, atau Padang yang disajikan berbagai rumah makan yang berada di tepi jalan utama kota itu mengisi perut kosong. Selain itu, keletihan para pelancong dapat dihilangkan saat menikmati kelezatan mangga parapat yang khas dengan rasa asam-manisnya.

    DANAU Toba terbentuk dari letusan sebuah gunung berapi. Puncak gunung tersebut runtuh dan terjadilah Danau Toba. Sebagian reruntuhan itu menjadi Pulau Samosir. Peristiwa alam membuat kawasan itu menjadi indah. Danau seluas 6,60 kilometer persegi itu dikelilingi dinding-dinding bukit yang menjulang tinggi hingga 480 meter di atas permukaan laut.

    Bukit di sebelah tenggara dan timur disebut Bukit Habinsaran dan Simanukmanuk. Dinding itu memisahkan Uluan dan pantai timur Sumatera. Uluan merupakan daerah perbukitan tinggi yang di bawahnya terdapat Toba Holbung atau Lembah Toba. Di kawasan ini terdapat lahan pertanian yang subur dan berpenduduk padat. Kawasan ini terletak di antara Porsea dan Balige.

    Sementara itu, di kawasan yang lebih tinggi-yang biasa disebut humbang-banyak ditumbuhi rumput dan belukar serta bebatuan. Dari antara bebatuan itulah muncul sumber-sumber mata air yang jernih. Di kawasan itu ada satu sungai besar bernama Aek Sigeaon, yang melintasi dataran pahae di dekat Lembah Silindung yang luas. Di bagian utara dikenal sebagai penghasil kemenyan. Tempat itu dikenal dengan sebutan Sijama-Polang atau penyadap pohon kemenyan. Nyaris semua kawasan itu terletak di ketinggian 900 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, dengan puncaknya di kawasan Pegunungan Pusukbuhit.

    Namun, keindahan Danau Toba tidak hanya di situ saja. Perjalanan baru saja dimulai. Di Parapat ada sebuah dermaga penyeberangan yang terletak di kawasan Ajibata. Dari dermaga itu para wisatawan dapat menyeberang ke Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba.

    Dengan membayar Rp 45.000 untuk kendaraan dan Rp 1.500 untuk penumpang, para wisatawan dapat menggunakan jasa pelayaran feri yang tiap tiga jam sandar. Feri "Tao Toba I" dan "Tao Toba II" selama satu hari secara bergantian menjalani rute Ajibata-Tomok di Samosir. Perjalanan dengan feri tersebut ditempuh selama lebih kurang dua jam.

    Tomok merupakan salah satu dari beberapa pusat pariwisata di kawasan Samosir. Kawasan lain yang juga merupakan pusat pariwisata di sekitar Danau Toba dan Samosir adalah Tuk-tuk, makam raja-raja Batak di Sidabutar, Istana Raja Batak di Ambarita, serta pusat kerajinan kain ulos di kawasan Pangururan.

    Di kawasan itu banyak berdiri toko-toko cendera mata yang menjual berbagai barang kerajinan seperti ulos, ukiran kayu khas tanah Batak seperti sistem penanggalan batak, tempat obat yang terbuat dari bambu, serta gitar batak. Selain itu, di kawasan itu, seperti di Tomok dan Tuk-tuk, banyak terdapat vila dan penginapan yang bertarif rata-rata Rp 75.000 hingga Rp 150.000. Di kawasan itu juga banyak berdiri hotel-hotel berbintang satu hingga berbintang dua yang tarifnya sampai Rp 350.000 per malam. Hotel-hotel itu didirikan di tepi danau sehingga memudahkan bagi para wisatawan untuk menikmati fasilitas berenang di danau.

    Di kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara itu juga banyak didirikan rumah makan dan kedai yang menawarkan berbagai penganan, baik bercita rasa tradisional seperti rendang dan ikan bakar maupun yang bercita rasa internasional seperti hamburger dan pizza. Kedai atau restoran itu banyak didirikan di tepi danau sehingga para wisatawan dapat menyantap hidangan sambil menikmati keindahan danau.

    Selain keindahan danau dan nikmatnya hidangan yang disajikan berbagai penginapan dan hotel, para pelancong dapat menikmati pemandangan dan keelokan tanah Toba dengan mengendarai sepeda gunung atau sepeda motor. Sepeda dan sepeda motor itu disewakan pengelola penginapan dengan harga sewa Rp 35.000 per hari untuk sepeda dan Rp 50.000 per hari untuk sepeda motor berikut bahan bakar.

    Oleh karena itu, hampir di sepanjang jalan antara Tomok, Tuk-tuk hingga Pangururan yang berjarak lebih dari 40 kilometer banyak ditemui para wisatawan mancanegara yang bersepeda menikmati suasana pedesaan. Sepeda atau sepeda motor banyak diminati wisatawan karena alat transportasi itu dapat dengan mudah digunakan untuk menjelajahi pelosok pedesaan dan kampung-kampung di kawasan Toba dan Samosir.

    Di samping itu, jalan di kawasan tersebut sempit dan di beberapa tempat rusak hingga sulit jika ingin menjelajahinya dengan mobil.

    SEORANG wisatawan asal Jerman, Martin Koessler, mengatakan, keelokan Toba terletak pada keramahan penduduk dan alam Toba yang relatif masih alami. Hal itu dibenarkan juga oleh rekannya, Florian Rott, yang terkesan pada sikap seorang penduduk desa yang menyajikan nasi berlauk teri saat mereka mengunjungi sebuah perkampungan di Pangururan. "Kami tak perlu ke Toba jika ingin menikmati pizza. Kami akan ke Italia jika ingin makan pizza," papar Florian.

    Keaslian wajah Toba yang mereka saksikan saat memasuki perkampungan, seperti di Simarmata, Sagala, dan Sihaloho, amat mengesankan mereka. Di kampung itu mereka dapat menikmati cara warga Batak secara tradisional menyiapkan kopi yang kental atau menikmati makanan dengan menggunakan tangan. Keramahan penduduk amat mengesankan mereka.

    Selain itu, alam asli Toba yang mereka nikmati dari ketinggian bukit di sekitar Danau Toba amat menarik minat mereka untuk kembali ke Toba. Di Ambarita yang dikenal sebagai situs Istana Raja Batak dari marga Siallagan, para pemandu wisata dengan lugas dan ramah menceritakan kisah-kisah tempo dulu. Mereka bercerita tentang praktik pengadilan masa lalu dan memperagakan proses peradilan tersebut hingga eksekusi terpidana. Setiap pertanyaan yang diajukan wisatawan mereka jawab dengan tuntas. Mereka tidak tergesa-gesa mengisahkan setiap fragmen. Mereka rata-rata memasang tarif Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk memandu wisatawan memahami situs tersebut.

    Selain itu, di setiap kampung banyak warga dengan senang hati bercerita tentang keadaan desa dan seluk-beluk cara membuat ulos, kain tenun khas Batak. Di Desa Lumban Suhi-suhi, sekitar enam kilometer dari Kecamatan Pangururan, banyak perajin kain ulos yang dengan terbuka menceritakan cara membuat kain tenun tersebut. Mereka senang jika ada orang yang mengunjungi kampungnya. Selain mendatangkan tambahan penghasilan, kehadiran para wisatawan dapat membuka perkembangan usaha dan wawasan mereka.

    Seorang perajin ulos, Nai Marudut boru Situmorang, menceritakan, kain ulos karyanya pernah digunakan mengulosi Pemimpin Umat Katolik Paus Yohanes Paulus II saat mengunjungi Indonesia tahun 1990. Kesempatan tersebut membuat sentra industri ulos itu semakin dikenal orang.

    Namun, saat ini industri ulos di kawasan itu kurang berkembang meskipun Kampung Lumban Suhi-suhi menjadi desa percontohan industri ulos di kawasan Toba Samosir. Dana modal awal dan padanan sebesar Rp 200 juta yang dikucurkan Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah hingga saat ini belum mereka terima. Padahal, dana itu sejak lima bulan lalu telah dicairkan Koperasi Serba Usaha Pemuda Pancasila Kabupaten Toba Samosir yang ditunjuk sebagai pengelola pinjaman tersebut.

    Para perajin ulos itu mengemukakan, sebenarnya dana tersebut dapat menjadi alternatif bagi mereka untuk mengembangkan usaha. Saat ini harga ulos berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 150.000. Harga itu semakin mahal jika ulos yang dibuat merupakan ulos pesanan. "Ulos seperti itu harganya dapat mencapai Rp 500.000. Selain halus, coraknya juga khusus," papar Nai Marudut.

    Ulos seperti itu dapat dijahit menjadi jas, kemeja, atau pakaian wanita. Menurut dia, alternatif itu dapat memberi kesempatan bagi para perajin untuk lebih kreatif dalam menghasilkan ulos. Namun sayang, upaya itu terganjal sulitnya modal dan mahalnya benang.

    Nai Marudut mengatakan, hingga saat ini banyak wisatawan tetap berminat pada berbagai barang kerajinan Batak seperti ulos. Minat itu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan warga Toba Samosir yang selama ini mengandalkan hasil pertanian seperti padi dan bawang merah. Kondisi tersebut akhirnya berujung pada surutnya dunia wisata di Toba Samosir.

    Meski hingga kini tidak tercatat secara sistematis, jumlah kunjungan wisata ke Toba Samosir cenderung menurun. Kecenderungan itu merupakan efek dari makin miskinnya warga pedesaan di Toba Samosir. Hingga akhir tahun 2002 di Pangururan, kecamatan terbesar di tepi Danau Toba, pendapatan asli daerah lebih kurang Rp 10 juta. Bahkan, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, sekitar 14 kilometer utara Pangururan, pendapatan asli daerahnya hanya Rp 3 juta.

    Kecilnya pendapatan daerah itu disebabkan infrastruktur di kawasan tersebut kurang memadai. Banyak jalan menuju ke Sianjur Mula-mula rusak berat. Salah satu penyebabnya adalah tanah longsor. Di kawasan itu banyak bukit yang gundul sehingga ketika hujan besar datang, kawasan tersebut terancam tanah longsor. Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Pangururan. Bahkan, di Pangururan dan berbagai kecamatan di kawasan Kabupaten Balige, banyak jalan rusak karena sering dilewati truk-truk pengangkut kayu pinus yang tonasenya melebihi kemampuan jalan.

    Selain itu, akhir-akhir ini kehidupan petani di dua kecamatan itu terancam karena panen bawang merah mereka gagal. Hujan yang terus-menerus menerjang kawasan tersebut membuat busuk tanaman bawang merah petani. Seorang petani di Desa Parbaba, misalnya, terpaksa mencabut tanaman bawangnya yang mulai berumbi dan menjadikannya pupuk. "Kalaupun ada hasilnya, tidak akan mencukupi untuk menanam lagi. Terpaksalah sekarang kami makan jagung. Tunggu nanti padi baru dapat lagi uang," paparnya.

    Camat Sianjur Mula-mula Unggul Sitanggang mengatakan, pada prinsipnya, daerah Toba Samosir memiliki potensi pariwisata yang besar. Namun, karena kondisi ekonomi rakyat yang sangat terbatas, maka potensi tersebut sulit dikembangkan. "Untuk mencoba bertahan saja kami sudah sulit. Namun, jika pemerintah mencoba membantu dengan merawat jalan, kemungkinan kondisi ekonomi daerah ini dapat tertolong," papar Sitanggang.

    KESULITAN ekonomi dan keterlambatan pemerintah memperhatikan infrastruktur di kawasan tersebut menyebabkan perkembangan pariwisata cenderung tersendat. Keelokan alam Toba Samosir menjadi kurang bermanfaat secara ekonomis jika daya dukung terhadap perkembangan penduduknya terhambat. Padahal, merekalah yang menjadi motor utama penggerak roda pariwisata di kawasan itu.

    Ketulusan dan keramahan telah menjadi modal pokok dan telah dimiliki oleh warga Toba Samosir. Namun, jika hal tersebut tidak didukung oleh kemauan keras pemerintah untuk berpihak pada mereka, apa pun upaya yang dilakukan pemerintah untuk memajukan pariwisata di kawasan tersebut akan sia-sia.

    Pada prinsipnya, industri pariwisata akan maju dan berkembang jika penduduknya berkembang dan maju. Kesadaran akan pentingnya pariwisata akhirnya dipahami tidak sekadar sebagai motor penghasil devisa. Tetapi, pariwisata juga dipahami dan melulu dipahami sebagai sarana perjumpaan antarberbagai kultur yang berbeda dan memperkaya budaya-budaya tersebut.

    Dengan demikian, pariwisata berefek dua arah, baik kepada wisatawan maupun kepada penduduk setempat. Selain manfaat ekonomis yang dinikmati penduduk, wawasan mereka tentang dunia lain pun berkembang, demikian juga bagi wisatawan. Mereka akan diperkaya dengan budaya dan cara hidup yang bagi mereka baru dan mengesankan. Menurut Florian dan Martin, hal itu jauh lebih mengesankan dibandingkan dengan sekadar cendera mata saja yang bakal usang oleh waktu. (B JOSIE SUSILO HARDIANTO)
    Search :

    sumber :kompas

  • Telaga Sarangan

    Telaga Sarangan atau disebut juga Telaga Pasir berada di kaki gunung Lawu, berjarak +/ - 16 Km(arah barat) dari Kota Magetan. Para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam. Telaga Pasir Sarangan yang mempunyai luas +- 30 Ha dengan kedalaman 28 meter, udara yang sejuk dengan suhu 18-25 C. Di tempat ini beraneka ragam fasilitas hotel, rumah makan, perahu dayung, mainan anak-anak, perahu boat dan kuda yang disediakan bagi para wisatawan dari berbagai daerah maupun wisatawan manca negara.
    Fasilitas umum yang terdapat di Kawasan Wisata Telaga Sarangan antara lain :

    1. Jalan akses menuju Obyek Wisata yang merupakan Jalan Propinsi, dengan kondisi fisik cukup baik dan menghubungkan Magetan-Solo melalui Tawangmangu.

    2. Sarana telekomunikasi berupa telepon umum, KBU/Wartel dan merupakan jaringan telepon seluler Telkomsel dan Metrosel

    3. Jaringan listrik dari PLN dan iri dari PDAM dalam kondisi baik.

    Sedangkan fasilitas khusus / sarana wisata yang terdapat dalam Kawasan Obyek Wisata Telaga Sarangan antara lain :
    1. Hotel berbintang : 2 buah
    2. Hotel Melati : 41 buah
    3. Losmen : 16 buah
    4. Rumah Makan : 20 buah
    5. Lapangan Tenis : 3 buah
    6. Kolam Renang : 2 buah
    7. Jasa Perahu : 70 buah
    8. Jasa Kuda : 120 ekor
    9. Pasar Wisata : 1 buah
    10. Taman dan tempat bermain anak-anak : 1 buah
    11. Musholla : 1 buahWisatawan yang mengunjungi obyek wisata Telaga Sarangan dapat menikmati kesejukan dan pemandangan alam yang indah berupa telaga, alam pegunungan dan persawahan dimana penduduk setempat bercocok tanam dan sayuran dan hortikultura lainnya.

    Di kawasan obyek wisata tersebut terdapat pula daya tarik lain berupa :

    1. Perahu, yang menyediakan jasa menegelilingi telaga dengan aman.

    2. Kuda, yang menyediakan jasa naik kuda mengelilingi telaga sepanjang jalur lingkar, sambil menikmati keindahan Telaga Sarangan.

    3. Taman bermain anak-anak dengan fasilitas tempat berteduh dan sarana bermain anak-anak seperti ayunan dll.

    4. Pasar Wisata yang menjual anaka cinderamata, makanan khas, sayuran dan produk unggulan Kabupaten Magetan lainnya.

    5. Penjual makanan keliling seperti sate kelinci, jagung dan kacang rebus.
    Telaga Sarangan terletak di kaki Gunung Lawu pada ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata 18 - 29 C. Obyek wisata alam ini berlokasi pada jalur Magetan-Solo melalui Tawangmangu Kabupaten Karangnyar.

    Dengan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, Telaga Sarangan telah terkenal sebagai tempat peristirahatan dan tujuan wisata keluarga.

  • Tari kecak bali

    Tari Kecak, Tarian Tanpa GamelanPengirim : TC : Bianka

    Bila mendengar nama Bali, apa yang terlintas pertama kali di benak kita? Selain Pantai Kuta tentunya. Ya! Tari Kecak, tarian yang sangat terkenal di kalangan turis-turis mancanegara dan domestik. Tarian kecak mengisahkan tentang dongeng Ramayana, yaitu cerita klasik masyarakat Hindu dengan tokoh Rama, Sita dan Hanoman. Selain Tari Kecak, juga ada Tari Barong dan Legong.

    Tarian ini merupakan jenis tari Bali yang paling unik. Kenapa unik? Karena tarian ini tidak diiringi alat musik atau gamelan seperti layaknya sebuah seni tari. Tarian hanya diiringi paduan suara dari 100 orang pria.

    Tari Kecak berasal dari jenis tari sakral “Sang Hyang”. Pada tari Sang Hyang, seseorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Ramayana ke dalam tari tersebut.

    Pentas tarian sakral itu sendiri biasaya berlangsung di Pura Shandi Swara “Kecak and Fire Dance” yang berada di daerah Ubud tepatnya di Jl Hanoman, Padang Tegal Kelod, Ubud, Bali. Namun pagelaran tidak setiap hari atau hanya berlangsung tiga kali seminggu. Yakni setiap Selasa, Kamis dan Jumat pada pukul 19.00 Wita.

    Untuk menikmati tarian sendiri, tiap pengunjung diwajibkan membeli tiket seharga Rp50 ribu. Nantinya, selain tiket, pengunjung juga akan mendapatkan selembar kertas panduan cerita dalam tarian. Namun, untuk tempat duduk, pengunjung dibebaskan memilih.

    Travel Club (TC) sendiri sempat menikmati tarian ini secara langsung beberapa waktu lalu. Sesaat sebelum TC memasuki pelataran pura, TC sempat melihat serombongan laki-laki yang mengenakan sarung kotak-kotak putih hitam berjalan memasuki pelataran pura. Mereka adalah rombongan penari kecak.

    TC memilih tempat duduk di belakang. Pasalnya, selain ingin menikmati pertunjukan, TC berniat mengamati raut wajah pengunjung sewaktu melihat langsung tarian yang terkenal heboh ini. Meski begitu, panggung pertunjukkan masih terlihat dengan jelas.

    Sekitar lima menit kemudian, acara pun dimulai dengan masuknya serombongan penari ke halaman pura. Mereka masuk dengan melantunkan irama yang digunakan sebagai iringan tarian.

    Suara mereka sangat merdu, tidak terdengar sumbang sedikit pun. Dan mereka melakukannya dengan penuh semangat, sambil melemparkan pandangan ke arah penonton, tak jarang mereka memberikan senyum kepada para penonton, yang kebanyakan turis dari luar negeri.

    Tarian itu menceritakan tentang Epos Ramayana, yang terbagi menjadi lima babak. Di masing-masing babak menyuguhkan adegan yang sangat ringan dan mudah dimengerti oleh siapa saja. Setelah tarian tentang Epos Ramayana selesai, acara dilanjutkan lagi dengan Tarian Sang Hyang Dedari, di mana tarian itu merupakan tarian untuk mengusir roh-roh jahat.

    Sanghyang Dedari adalah jenis tarian ritual dengan kepercayaan bahwa ada saat-saat turut untuk menemui umatnya dan ia memasuki tubuh si penari. Sang Hyang adalah sebutan “yang berarti suci” Dedari artinya Malaekat. Tarian ini dipentaskan oleh dua gadis mungil di bawah umur yang masih perawan. Kenapa harus perawan, karena keperawanannya berarti kesucian.

    Dan rangkaian tarian yang terakhir adalah Tari Sang Hyang Jaran. Tarian dini dibawakan oleh seorang lelaki kesurupan yang berjingkrak-jingkrak seperti tingkah laku seekor kuda . Ia menari di atas bara api yang terbuat dari sabut kelapa. Jika kidung Sang Hyang menuntunnya ke api, maka ia pun akan menari di atasnya.

    Sebelum tarian Sang Hyang Jaran ini dimulai, TC melihat dua orang mengeluarkan satu karung sabut kelapa dan menyiramnya dengan minyak tanah, lalu membakarnya. Setelah itu barulah seorang lelaki keluar dengan menunggang kuda-kudaan. Ia bertingkah dengan sangat liar, dan beberapa kali ia menginjakkan kaki telanjangnya pada bara api tersebut. Dan beberapa kali ia menendangnya, hampir saja mengenai penonton yang duduk di bagian depan. Ini salah satu alasan TC memilih bangku belakang, yaitu agar aman dari bara api yang melayang akibat tendangan si penari.

    Datang ke Bali tanpa menyaksikan Tari Kecak, rasanya kurang lengkap. TC jamin anda akan terpesona dengan tarian yang paling diminati oleh wisatasan asing maupun domestik ini. TC bianka

  • Kesenian Angklung

    Dari Saung Udjo ke Pelataran Dunia
    Perjalanan Angklung Daeng

    ANGKLUNG didefinisikan sebagai waditra yang terbuat dari ruas-ruas bambu yang dibunyikan dengan cara digoyang sehingga menghasilkan nada-nada tertentu (Rosidi, 2000:51. Rusnandar, et.al., 1996:23). Menurut mitologi Bali, kata angklung berasal dari kata angka yang berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau hilang. Angklung kemudian dapat dikatakan sebagai nada atau laras yang tidak lengkap (Soepandi dan Atmadibrata, 1977:12).
    SEJUMLAH turis asing ikut berlatih memainkan lagu dengan menggunakan angklung, alat musik tradisional daerah Sunda.*

    Tidak mudah menentukan sejak kapan kesenian angklung mulai ada di Indonesia, darimana asalnya, dan siapa yang pertama menciptakannya. Namun, apabila dilihat dari sejarah perkembangan seni pertunjukan daerah Jawa Barat, ada kecenderungan angklung yang berkembang dewasa ini berasal dari daerah Jawa Barat.

    Dalam perkembangannya, menurut dokumen yang ditulis Iman Rahman A.K. dari Dokumen Saung Angklung Udjo, angklung menyebar secara luas di hampir seluruh pelosok Jawa Barat dan dipergunakan sebagai alat kesenian yang mendukung upacara-upacara adat dan tradisi daerah-daerah tersebut. Di daerah Banten, Baduy, Sukabumi, Cirebon, dan lain-lain, angklung memiliki fungsi utama sebagai sarana ritual seperti upacara ngaseuk pare (menanam benih padi), nginebkeun pare (menyimpan padi untuk sementara), ngampihkeun pare (menyimpan padi), seren taun (upacara tahunan), nadran (berziarah), ngunjung ka Gunung Jati (upacara ritual ke Gunung Jati), heleran (menggiling padi), dll.

    Dalam fungsi sebagai sarana ritual tersebut, angklung dimainkan untuk menghormati Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, agar berkenan melimpahkan berkah kesuburan pada tanaman pertanian atau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan penduduk, dengan harapan, hasilnya akan dapat membawa manfaat dan berkah bagi penduduk.

    Selain berfungsi sebagai sarana ritual, angklung juga dimainkan untuk kepentingan hiburan. Dalam fungsi ini, angklung banyak dimainkan bersama kesenian tradisional lainnya. Dikenal kemudian angklung degung, angklung yang mengiringi kuda lumping, angklung yang dimainkan dalam kesenian badeng dan mengiringi kawih (nyanyian Sunda), angklung yang mengiringi tarian, dll.

    Kesenian angklung, selain dipergunakan dalam upacara-upacara kerajaan, juga dipergunakan sebagai kesenian yang mengiringi peperangan. Dalam peperangan-peperangan yang dilakukan Sultan Agung Banten, serangan pasukannya selalu diiringi oleh musik perang yang dimainkan oleh kesenian angklung. Sebagai kesenian yang mengiringi peperangaan, angklung juga dipergunakan pasukan kerajaan Pajajaran dalam kancah Perang Bubat (Pikiran Rakyat, 16 Mei 2002).

    Pada perkembangannya kemudian, angklung menyebar tidak hanya dimainkan di kalangan istana saja, tetapi mulai dimainkan oleh rakyat, terutama dalam pesta-pesta rakyat dan upacara-upacara pertanian untuk menghormati dewa-dewa dan memohon restu untuk bertani. Dari istana, kesenian angklung berkembang pesat ke daerah-daerah Banten Selatan dan Priangan Timur, seperti daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan daerah lainnya.

    Banyak usaha-usaha untuk menempatkan kembali angklung pada derajat kehormatannya. Usaha yang dinilai paling berhasil adalah usaha yang dilakukan oleh Daeng Soetigna dengan melakukan modernisasi instrumen angklung pada tahun 1938 sehingga kemudian muncul angklung berskala tangga nada diatonis yang mampu mencapai repertoar-repertoar musik populer.

    Angklung tradisional

    Berdasarkan jenisnya angklung terbagi dua, angklung tradisional dan angklung modern. Yang termasuk Angklung Tradisional adalah Angklung Baduy, Angklung Buncis, Angklung Gubrag, dan Angklung Bungko. Sedangkan Angklung Modern adalah angklung yang dikembangkan oleh Daeng Sutigna dan sering disebut Angklung Daeng.

    Angklung Baduy tidak diketahui dari mana asal-usul dan sejak kapan jenis angklung ini mulai muncul. Pada masyarakat Baduy Jero, Angklung Baduy dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung upacara adat tradisional menghormati Sang Hyang Asri atau Dewi Sri sebagai dewi pertanian dan kesuburan. Upacara tersebut dikenal dengan nama ngaseuk pare, yaitu upacara yang dilaksanakan saat penanaman benih padi di ladang, dan upacara ngampihkeun pare, yaitu pada saat mengangkut padi hasil panen ke lumbung.

    Angklung Buncis dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari, Bandung. Sedangkan Angklung Gubrag dimainkan pada upacara seren taun, yaitu upacara besar-besaran pada akhir tahun panen. Selain itu, Angklung Gubrag juga dimainkan pada upacara-upacara hajatan keluarga, perhelatan hari raya, hari-hari besar nasional, dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang banyak (Soepandi dan Atmadibrata, 1977:14).

    Angklung Bungko terdapat di Desa Bungko yang terletak di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. Angklung Bungko yang pertama dibuat diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun. Walaupun begitu, Angklung Bungko pertama masih ada, tersimpan dengan baik, walaupun sudah tidak bernada lagi. Angklung Bungko pertama ini selalu disertakan dalam setiap pergelaran kesenian Angklung Bungko sebagai simbol resminya pergelaran tersebut. Kemudian dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung penyebaran agama Islam.

    Angklung tradisional berkembang bersama dengan perkembangan seni karawitan. Kesenian-kesenian tersebut saling mengisi dan melengkapi. Bentuk-bentuk yang kemudian muncul dari perkembangan tersebut adalah kesenian prakpilingkung, bangkolung, angklung degung, dsb (Dokumen Saung Angklung Udjo, t.t.).

    Usaha-usaha untuk mengembangkan kesenian angklung tradisional dilaksanakan secara konsisten, baik oleh para tokoh angklung maupun oleh pihak pemerintah. Salah satunya oleh Udjo Ngalagena melalui program pelatihan kesenian angklung tradisional di sanggar seni Saung Angklungnya, di mana setiap peserta pelatihan diharuskan mempelajari dan menguasai dulu angklung tradisional sebelum melangkah ke pelatihan angklung modern atau kesenian Sunda lainnya yang telah dimodifikasi.

    Angklung modern

    Angklung modern adalah angklung hasil pengembangan dari angklung tradisional yang semula sederhana dan hanya berskala tangga nada pentatonis, menjadi angklung kompleks yang berskala tangga nada diatonis. Angklung ini kemudian dikenal dengan nama Angklung Daeng atau biasa disebut juga Angklung Padaeng. Karena angklung ini merupakan hasil temuan Daeng, seorang guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (1938) yang dinilai telah berhasil dengan baik menempatkan kembali kedudukan angklung di tengah-tengah masyarakat dengan melakukan modernisasi alat musik angklung.

    Dilihat dari tata cara memainkan dan skala tangga nadanya, Angklung Daeng memungkinkan menjangkau repertoar-repertoar lagu populer, tidak saja yang terdapat dalam khasanah musik nasional, tetapi juga musik Barat lainnya (Koesoemaatmadja, 1989:3).

    Perhatian besar

    Usaha pengembangan dan pelestarian kesenian angklung yang sangat menonjol dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui Saung Angklung Udjo, salah satu lembaga kesenian yang bergerak dalam bidang industri alat-alat musik bambu, terutama waditra angklung, pelatihan kesenian angklung dan kesenian tradisional Sunda, dan juga berperan sebagai objek wisata budaya yang mengangkat kesenian angklung dan kesenian bambu lainnya dalam penyajiannya.

    Perhatian pemerintah untuk mengembangkan kesenian angklung semakin bertambah besar. Angklung kemudian dimasukkan dalam paket acara kesenian acara jamuan tamu-tamu negara. Dalam hal ini, tercatat Bapak Sampoerno S.H. selaku Kepala Rumah Tangga Istana yang menaruh perhatian sangat besar terhadap perkembangan musik angklung dan Obby A.R. Wiramihardja yang sejak tahun 1971 berperan sebagai konduktor orkestra angklung istana (Koesoemaatmadja, 1989:5).

    Pada tingkat daerah, pemerintah juga memperhatikan perkembangan kesenian angklung. Hal itu dapat dilihat dengan ditetapkannya Saung Angklung Udjo pimpinan Udjo Ngalagena sebagai lembaga kesenian yang menitikberatkan kesenian angklung dalam penyajiannya, menjadi Laboratorium Pendidikan dan Latihan Kesenian Daerah melalui Bidang Kesenian Daerah Kantor Wilayah Departemen Kesenian dan Kebudayaan Jawa Barat pada 1970. Saung Angklung Udjo juga kemudian ditetapkan sebagai objek pariwisata daerah oleh Dinas Pariwisata Daerah Kotamadya Bandung sejak 1971 (Rosidi, 2000:673, Dokumen Saung Angklung Udjo, t.t.).

    Dalam rangka pengenalan angklung kepada dunia luar, pada tahun 1971, Pemerintah Daerah Jawa Barat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Jakarta mengutus Udjo Ngalagena untuk melakukan studi banding objek wisata dan pengolahan bambu di Thailand (Rosidi, 2000:674, Ngalagena, 1997:4). Selain itu, pada 1983 melalui Departemen Luar Negeri, Menteri Luar Negeri Mochtar Koesoemaatmadja mengirimkan Udjo Ngalagena bersama seorang asistennya ke Kepulauan Solomon di Pasifik Selatan untuk mengajarkan bermain angklung, cara pembuatan, serta pemeliharaannya, hingga saat Udjo meninggalkan Kepulauan Solomon, telah ada satu orkes kesenian angklung yang dapat memainkan kesenian angklung, membuat, sekaligus memeliharanya dengan baik.

    Selain banyak mengisi berbagai pertunjukan di dalam negeri, angklung kini menjadi kesenian tak terpisahkan dari misi kebudayaan Indonesia di luar negeri. Lima kegiatan terakhir yang diemban Saung Angklung Udjo bersama dengan kesenian angklung ke luar negeri antara lain. Bersama rombongan GSP-Guruh Soekarnoputra, Angklung Udjo mengadakan promosi pariwisata di London (1995), mengisi acara pada peringatan HUT RI ke 50 sekaligus promosi pariwisata yang diselenggarakan di London (1995), melatih cara memainkan Angklung di Argentina atas permintaan KBRI Indonesia di negara tersebut (2000), mengajar Angklung di Fukuoka Jepang, dalam misi Pariwisata bersama Garuda (2001), dan mengisi acara Sound of Bamboo di Kinabalu, Malaysia (2002). (Eriyanti N.D./"PR")***

    -

  • Bromo Tengger Semeru taman Nasional

    Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang letaknya di tengah-tengah wilayah Propinsi Jawa Timur luasnya 800 km2 merupakan gunung berapi terbesar di Jawa Timur dan Gunung Semeru merupakan Gunung tertinggi di Pulau Jawa puncaknya berada pada ketinggian 3.676 m di atas permukaan laut. Kaldera Tengger di puncak Gunung Bromo yang luasnya 10 km2 merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang menakjubkan. Kawah Bromo berada di bagian utara berketinggian 2.3382 m di atas permukaan laut masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke udara. Suhu rata-rata di puncak Bromo antara 5 s/d 18 derajad Celcius. Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang membentang di kaki Gunung Semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh merupakan pesona alam yang mengagumkan.
    (lihat: tatacara masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
    Legenda Asal Mula Upacara Kasada

    Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta Brahma bernama Joko Seger.
    Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.
    Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya "Penguasa Tengger Yang Budiman". Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan. Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar karuniai keturunan.
    Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya. Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :"Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.
    Masyarakat Tengger

    Sekelompok penduduk Jawa Timur yang bermukim di pegunungan Tengger terkenal dengan sebutan suku Tengger. Orang Tengger hidup dari bercocok tanam sayur-sayuran memiliki budaya yang khas, diyakini sebagai keturunan orang-orang Majapahit yang menyingkir saat Majapahit mengalami kemunduran bersamaan dengan menyebarnya agama Isalm di Jawa.
    Menganut agama Hindu, namun menurut keputusan Parisada Hindu Darma masyarakat Tengger memeluk agama Budha Mahayana. Mereka tidak memiliki candi-candi, dalam melakukan upacara, namun dalam peribadatan diadakan di Poten, punden-punden atau danyang. Yadnya Kasada merupakan upacara sakral yang dilakukan di Poten dan kawah Gunung Bromo dengan harapan agar mereka diberi keselamatan dan kebahagiaan, disamping itu juga diadakan pemilihan dan pelantikan dukun.
    Flora dan Fauna

    Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai daerah endapan lava tanahnya cukup subur tumbuh berbagai macam tumbuhan langka diantaranya rumput-rumputan, pinus merkusii, cemara, dan edelweiis (Anavalis sp.) serta berbagai jenis tumbuhan tropis yang lain. Berbagai satwa yang hidup di kawasan Bromo Tengger Semeru antara lain : Babi hutan (Sus Scrafa) Rusa Timur (Cervus Timorensis), Serigala dan bajing terbang, macan tutul, trenggiling (mani para manis javanicus) serta berbagai jenis spesies burung.
    Pura Luhur Poten Gunung Bromo

    Sebagai pemeluk agama Hindu Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten. Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada.
    Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zone, yaitu :
    Mandala Utama,
    Disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari:
    Padma berfungsi sebagai bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Fungsi utamanya tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa, Padma tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda dan Angsa.
    Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.
    Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.
    Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar dari sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi bentar. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/nista atau jaba tengah/mandala utama bisa berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai variasi hiasan.
    Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba tengah/Mandala Madya ke jeroan Mandala Madya sesuai keindahan proporsi bentuk fungsi dan besarnya atap bertingkat-tingkat tiga sampai sebelas sesuai fungsinya.
    Untuk pintu masuk yang letaknya pada tembok penyengker/pembatas pekarangan pura.
    Mandala Madya/zone tengah
    Disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:
    Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.
    Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.
    Bale Bengong, disebut juga Pewarengan suci letaknya diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.
    Mandala Nista/Zone depan
    Disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

    Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

    Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.
    Yadnya Kasada

    Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon aar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

    Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkawinan dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulu

  • Bromo Tengger Semeru National Park

    TN-BTS (Bromo Tengger Semeru National Park) area is awell known natural tourism objects and one of tourism destination places. Both for domestic and foreign tourists.Tourism objects that exist in TN-BTS area are:

    1. Tengger Cadera.

    The mayor atractivenees of TN-BTS is its unique and spectacular natural phenomena and those are easily enjoyed from a relative cloose positition.
    Tengger caldera (crater) in which 5 (five) mounts are located could be a special interesting thing in the tourism, including its history of formation.
    According to esher (1980 et al) formerly mount Tengger was a very big /large mountain whit a peak level of 4,00 meters above sea level. About one milion or one milion and a half years ago have head activities to from a very large caldera of 8-10 Km mount Tengger activities does not stop only to that , but its activities is still seen whit emergence of a new crater at center of the caldera the crater is higher nad higher until sometime it erupst.
    Tengger caldera is very large and well known whit is name laut pasir Tengger. Because of its unique this caldera was handled by the govermentin 1919 and stated as a natural conservation . however this area apparently attracted tourist to come. Then the area was changed to be as a national park (especialy in Cemorolawang part.)

    2. Lava Crater

    The lava crater is at a sand sea of kutho part, from far looks like a pile of bricks of ex- palace . the local people cal the well/ crater as Sumer pitu(well seven).
    Based on geologikal history, lava craters have com from lava burning mold of mount Kursi.
    This time is lava is vomited from the crater and floods out directly down to the sna sea because the slope of the sand sea leads to horizontal, velocity of the mold is slower and slower to 5 meters per hour and its surface is firstly frozen and solidified while the inside part ist still mold/ more liquit .
    lava flow will stop after the lava matters have undergone all solidification . next eruptions cause shaking that affec ist weak ceilings fall and from some wells. There are more than 20 wells and they are scattered around.

    3. Mount Bromo

    Mount Bromo is one of five mounts located within Tengger mountains on its sand sea.
    Atractiveness of this mount is bat to the date it is still active and easily visited /ascended. This mount bromo tourism objec has a natural atraction that atrac visitor because of this unique natural phenomena in from of of a crater on the crater covered by sand sea.
    The natural beauty and wondervul valley are vascinating panorama, plus ist serene atmosphere and peace we well fel while visiting this area. To get the peak of mount Bromo , we use prepared stairs /steps of concrete stuff. When we get the peak we will see Brome a large caving crater whit is smoke out of the bottom . it shows the vulcano is still active. From the peak we see / enjoy the view of brome crater whit ist thin cloudy smoke, and the backward side we can see the beautifullness land countains sand see whit its natural silhuets that very impresisive.
    Its other atracctiveess, is that volcano is a place of afinal ritual ceremoni (kasada) of Tengger communlty that has is reprensented by throwing farming product like the fruits and grain onto Moutn Bromo crater. This ceremony has attrated tourists to see the annual ceremony.

    4. Mount Widodaren

    mount /cave Widodaren is located beside mount . Batok and is tourism potentials objec whit the special atractivenes . one of the appeal of this objec is that this location consitutes a sacred tourism objects thar from a cave and a sarced water resource.
    Inside of that cave and asarced water resources.
    Inside of that cave there is a somewhat broader place and inside that place there is abig stone that is used to provide somethings to be sacrificied and put nadar that also utilized as the place for meditation especially for comunities of Tengger for praying to the syangyang widi. Around that cave ,exactly beside there are believe that eficacy of the water resource that will never dry and according to comonity of Tengger , it is sacred water from widodaren (Mendhak Tira) beside, there ist belive that the efficacy of the water may keeo young and may get the spousefor the umaried person
    In order to rach this object has been made a narrou lane whit the trend nearly forty five degree. So that suggested to tourits for carefuly walking when passing this lane.
    Another atlaractivenes , when we have already reached the cave , we wel sea abeautifull view at the bottom. I,e sand seaand the adjancent. The more beautifull view when we are enjoiying the view at morning whit the yellow shined sun rise appears at our front.

    5. Mount Penanjakan

    Peak of moutn Pananjakan is the highets place if compared whit another places of mountainous Tengger. For these reason. In this are we may see the natural beautifulness in the bottom side such as san sea and mount. Bromo complex Dsk.
    That is backgrounded by mount. Semeru whit its thick smoke come out this peak of Pananjakan may be seen the beautifulnes of sunrise in the eastward behind the hill we can enjoy the situation mentioned above whit the peacefull situatiound without the noisiness.
    The provided facilitation are shelter, plaza MCK (places for washing and bath) and cafetaria.

    6. Ranu Pane and Regulo

    Ranu pne (1 ha) and Ranu regulo (0.75 ha) are two of four lake availabel inTN-BTS.
    Both lakes the heigt is 2,200 m of sea surface. Both are having a sufficient beauty view , from this place we can see the very fascinating view of mount Semeru whit its smoke comes out and enjoying the wonderfullnes of situations around the lake observing the widl animal in particular the living of belibis bird and observing the cultur and custom of the native inhabitanst.
    Arount the lake there is a rural residence (pendukuhan) that consituate last place for TN-BTS tourists in particular for the climber . beside in this rural residence there aer several little shops offering the food and beverage and the equipment for the climber .beside in this rural residence there are in habittants who quiding or carrying the equipment of the climber until reach to top of mpunt Mahameru (poter).
    Beside the tourist for the purpose of climbing ,Ranu Pane -regulo usualy utilized by the tourist for campng obseving the field and activites of open natural tourism. The facilities are provided in ranu pane rgulo are pndok pendaki , pondok jaga , information center , pondok peneliti and camping ground.

    7. Ranu Kumbolo

    Ranu kumbolo (8ha) is located at the heigt 22,390 m over the sea surface ,I,e ranu- pane and mount .Semeru historically and geologicaly.
    Ranu kumbolo is shaped from masive craters mount . jambangan that has solidefied so that the filing water otomatically not flows down.
    Until today, Ranu kumbolo is the potentials of delighfullly toursm object. The atractiveneses are that at a yard in wich relatively higger than the sea surfarce there is a lake whit the clear ,freas and unpolluted water , so that atracted the tourist to visit this park. For the climbers Ranu Kumbolo is he stop place to prepare nex journeianother attractiveness.in the west fringe of lake there is a monument . it is the legaci of acient, supposed that this monument is the legaci of majapahit empire. However until today has not earned the certainty.
    In particularn at the watery area of the lake we can see the living of wild animal,I,e Belibis brid . for the enverimental abservers Ranu Kumbolo is essentially the natural laboratori for the studiy and observation of nature that full whit the very rich knowledge.
    The facilities are provided in Ranu Kumbolo are pendok pendaki (70m) and MCK that are utilized by the climbers for taking rest, beside the availability of a relative evenly for camping ground. Needs of water may be met whit lake water.

    8. Kalimati

    Kalimati is the last camping location before sustain the journey.This places ususlly used for taking rest , because availabelity of water source. That is gap about 500 m from kalimati. And both the yard is relative evenly and also it has been established facility of pondok pendaki and MCK.
    Temperature in kalimati relatively cooler than other places, because kalimati area is the vallei of any adjacent hills.

    9. Arcopodo

    Arcopodo or recopodo is located in the middle between Kalimati and Mount Semeru. In this places there are twin statue (Arcopodo or rercopodo ) and some monuments of the died and lots climbers when climbing the moutn . Semeru in this places utilized for temporarily resting before sustain the journey to the top of Mahameru.

    8. Mahameru and Kawah Jonggring Saloko

    Mahameru is another name of the peak of semeru Montain in java (3,676 m above the sea surface) it has wide kawah called Jonggring Saloko. Since it is the highes Mountain , from its peak ,we can enjoy wonderful scenery below it such as
    -west side : malang City, north side : Kepolo mountain and Tengger,
    south side :shout beach line, east side : Argopura Mountain
    Among nature lovers , especialy climber from eatsjava , even some climber from yokyakarta bandung , semeru mountain is challenging one and always be place for nice climbing every year.

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.